Kasus terorisme kembali mewarnai dunia surat kabar dan media elektronik kita. Kasus perampokan bank pun disebut-sebut sebagai ulah 'sang teroris'. Sebelumnya, negeri ini telah mencatat rentetan peristiwa pem-bom-an yang dimulai dengan kejadian ledakan bom di Bali. Dan yang paling memilukan adalah terjadinya peledakan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton pada tahun 2009 lalu. Memilukan karena banyaknya korban yang berjatuhan, bertambah memilukan karena menyeret nama mahasiswa yang terlibat dalam peristiwa ini. Mengapa kasus terorisme 'seolah' dikaitkan dengan sosok mahasiswa? Lalu bagaimana kita (sebagai mahasiswa) seharusnya menyikapi hal ini?
Mahasiswa Teroris?
Setelah peristiwa peledakan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton, tak henti-hentinya media memberitakan adanya keterlibatan mahasiswa dalam jaringan teroris. Bahkan kampus-kampus yang berbasis Islam diduga banyak melahirkan 'sosok fundamental' yang pada akhirnya melakukan tindakan teror di negeri ini.
Sebut saja dalam peristiwa peledakan bom yang terjadi di JW Marriott dan Ritz Carlton telah menyeret dua nama mahasiswa, yakni Sonny dan Fajar yang keduanya tercatat sebagai mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah. Polri menangkap dan menahan keduanya atas dugaan menyembunyikan buronan dan mengetahui keberadaan bahan peledak namun tidak melaporkannya ke polisi (www.antaranews.com, 12/10/2009).
Mahasiswa Teroris?
Setelah peristiwa peledakan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton, tak henti-hentinya media memberitakan adanya keterlibatan mahasiswa dalam jaringan teroris. Bahkan kampus-kampus yang berbasis Islam diduga banyak melahirkan 'sosok fundamental' yang pada akhirnya melakukan tindakan teror di negeri ini.
Sebut saja dalam peristiwa peledakan bom yang terjadi di JW Marriott dan Ritz Carlton telah menyeret dua nama mahasiswa, yakni Sonny dan Fajar yang keduanya tercatat sebagai mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah. Polri menangkap dan menahan keduanya atas dugaan menyembunyikan buronan dan mengetahui keberadaan bahan peledak namun tidak melaporkannya ke polisi (www.antaranews.com, 12/10/2009).
Kawan, alasan penangkapan terhadap mahasiswa yang diduga terlibat dalam jaringan teroris kadangkala tidak mengarah pada bukti yang pasti. Seperti pada penangkapan dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang diduga terlibat jaringan teroris. Dua mahasiswa itu adalah Abdul Rochman dan Abdur Rochim, kakak beradik berusia 25 tahun dan 22 tahun yang ditangkap Densus 88 pada Senin 17 Mei 2010. Keduanya diduga penyebar film-film latihan militer para teroris melalui internet (www.vivanews.com, 19/05/2010). Nah lho...gimana dengan tersangka penyebar film-film porno??? No action.
Sinergisme Mahasiswa dalam Menghadapi Ancaman Terorisme
Opini keterlibatan mahasiswa dalam jaringan teroris mulai terbentuk di tengah-tengah masyarakat. Berbagai macam reaksi pun muncul, baik dari kalangan masyarakat maupun kalangan mahasiswa sendiri. Mahasiswa sebagai kaum intelektual, tentunya dalam menanggapi kasus ini harus dengan cara-cara yang intelek pula.
Kawan, di tengah arus opini yang menyudutkan mahasiswa, sekelompok mahasiswa memiliki cara tersendiri dalam menanggapinya. Cara yang mampu menyentuh sisi intelektual mahasiswa. Yap, tepatnya pada hari Sabtu, 24 Oktober 2010 telah diadakan Diskusi Intelektual Mahasiswa dengan tema “Membangun Sinergi Pergerakan Mahasiswa dalam Mewujudkan Kewaspadaan dan Solusi Menghadapi Ancaman Terorisme”. Acara yang diselenggarakan oleh BEM FMIPA UNESA ini dihadiri oleh aktivis mahasiswa diantaranya dari Unair, ITS, dan IAIN. Diskusi ini dihadiri oleh berbagai lembaga mahasiswa baik intra maupun ekstra kampus. Karisma sebagai salah satu lembaga mahasiswa di Unair turut hadir pula.
Sebagai pembicara dihadirkan para narasumber yang memiliki kapasitas luar biasa, yakni Dian Hijrah (MPM UNESA HMI Jatim), Fendy Eko Wahyudi (ICMI Jatim Pascasarjana Unair), dan Erwin Permana (BE Kornas BKLDK Pascasarjana UI).
Pada kesempatan itu, Mas Dian Hijrah menyampaikan bahwa mahasiswa tidak boleh menanggapi isu terorisme ini secara frontal. Namun harus mampu menunjukkan sisi intelektualitas mahasiswa dengan senantiasa melakukan diskusi. Tidak hanya berhenti di situ, tapi kita harus bisa mengimplementasikan hasil dari diskusi. Selain itu, mahasiswa harus mampu berfikir secara objektif terhadap setiap persoalan yang terjadi di masyarakat, termasuk terorisme. Dari sini maka butuh adanya sinergisitas di antara pergerakan mahasiswa.
Tonggak perubahan ada di tangan mahasiswa. Seolah mengingatkan pada sejarah, Mas Fendy memberikan fakta historis masa lampau, dimana para aktivis pergerakan seperti Soekarno dkk senantiasa melakukan diskusi, memikirkan bagaimana melakukan perubahan mendasar di Indonesia .Dari aktivitas diskusi
Sinergisme Mahasiswa dalam Menghadapi Ancaman Terorisme
Opini keterlibatan mahasiswa dalam jaringan teroris mulai terbentuk di tengah-tengah masyarakat. Berbagai macam reaksi pun muncul, baik dari kalangan masyarakat maupun kalangan mahasiswa sendiri. Mahasiswa sebagai kaum intelektual, tentunya dalam menanggapi kasus ini harus dengan cara-cara yang intelek pula.
Kawan, di tengah arus opini yang menyudutkan mahasiswa, sekelompok mahasiswa memiliki cara tersendiri dalam menanggapinya. Cara yang mampu menyentuh sisi intelektual mahasiswa. Yap, tepatnya pada hari Sabtu, 24 Oktober 2010 telah diadakan Diskusi Intelektual Mahasiswa dengan tema “Membangun Sinergi Pergerakan Mahasiswa dalam Mewujudkan Kewaspadaan dan Solusi Menghadapi Ancaman Terorisme”. Acara yang diselenggarakan oleh BEM FMIPA UNESA ini dihadiri oleh aktivis mahasiswa diantaranya dari Unair, ITS, dan IAIN. Diskusi ini dihadiri oleh berbagai lembaga mahasiswa baik intra maupun ekstra kampus. Karisma sebagai salah satu lembaga mahasiswa di Unair turut hadir pula.
Sebagai pembicara dihadirkan para narasumber yang memiliki kapasitas luar biasa, yakni Dian Hijrah (MPM UNESA HMI Jatim), Fendy Eko Wahyudi (ICMI Jatim Pascasarjana Unair), dan Erwin Permana (BE Kornas BKLDK Pascasarjana UI).
Pada kesempatan itu, Mas Dian Hijrah menyampaikan bahwa mahasiswa tidak boleh menanggapi isu terorisme ini secara frontal. Namun harus mampu menunjukkan sisi intelektualitas mahasiswa dengan senantiasa melakukan diskusi. Tidak hanya berhenti di situ, tapi kita harus bisa mengimplementasikan hasil dari diskusi. Selain itu, mahasiswa harus mampu berfikir secara objektif terhadap setiap persoalan yang terjadi di masyarakat, termasuk terorisme. Dari sini maka butuh adanya sinergisitas di antara pergerakan mahasiswa.
Tonggak perubahan ada di tangan mahasiswa. Seolah mengingatkan pada sejarah, Mas Fendy memberikan fakta historis masa lampau, dimana para aktivis pergerakan seperti Soekarno dkk senantiasa melakukan diskusi, memikirkan bagaimana melakukan perubahan mendasar di Indonesia .Dari aktivitas diskusi
intelektual inilah akan menjadi api yang membara yang akan menyinari masyarakat. Ide-ide yang disampaikan harus bisa membumi dan mampu memecahkan setiap persoalan di masyarakat. Terutama bagi aktivis mahasiswa Islam harus mampu menjelaskan bagaimana Islam dalam memecahkan setiap persoalan masyarakat. Untuk itu, para aktivisnya pun harus memiliki bekal pengetahuan Islam yang mendalam.
Kini mahasiswa dihadapkan pada isu terorisme. Mas Erwin Permana dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa isu terorisme ini baru muncul dan kemudian masuk ke Indonesia pasca peristiwa 911, yakni setelah runtuhnya gedung WTC dan Pentagon di Amerika. Sejak peristiwa tersebut, Amerika senantiasa merawat isu terorisme dengan jargon 'war on terorism' karena memiliki kepentingan imperialisme di negeri-negeri kaum muslim. Sayangnya negeri muslim seperti Indonesia justru menyambut isu ini dan mengambil mentah-mentah. Seakan-akan di negeri ini memang ada teroris sehingga dibuatlah Densus 88. Untuk Densus 88 ini Amerika Serikat menggelontorkan dana sebesar 20 Milyar dolar per tahun sedangkan Australia menggelontorkan dana sebesar 600 Milyar dolar per tahun. Keberadaan Densus 88 ini senantiasa dipelihara dengan adanya teroris-teroris. Ini jelas menunjukkan bahwa agenda terorisme bukanlah agenda rakyat Indonesia dan bukan pula agenda mahasiswa tapi agenda Amerika sehingga Mas Erwin berpesan bahwa kita jangan terjebak dalam isu terorisme. Permasalahan saat ini sangat banyak dan jangan berkutat pada isu terorisme semata.
Arah Sinergisitas Mahasiswa
Kawan, sesungguhnya persoalan di negeri ini akan bisa diselesaikan ketika kita berusaha dengan sunguh-sungguh untuk melakukan perubahan. Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (TQS ar-Ra'd : 11).
Usaha untuk melakukan perubahan haruslah dengan cara-cara yang dibenarkan Islam, bukan dengan kekerasan (misalnya melakukan tindakan teror). Kita tidak boleh terjebak terhadap isu terorisme yang dibawa oleh orang-orang barat. Persoalan negeri ini tidak hanya masalah ekonomi, kesehatan, politik, atau yang lainnya, namun persoalan utamanya adalah masalah sistem yang diterapkan negara. Negara telah menerapkan sistem kapitalisme yang telah nyata menjadi sebab keterpurukan.
Kawan, sebagai mahasiswa kita harus senantiasa bersinergis untuk melakukan sebuah perubahan. Sinergi ini akan berhasil ketika para aktivis mahasiswa memiliki sebuah tujuan yang sama yakni untuk melakukan perubahan mendasar, mengubah kondisi bangsa. Saling berdiskusi di antara pergerakan mahasiswa, sehingga akan menghasilkan pemikiran-pemikiran yang mampu mengubah kondisi bangsa bahkan dunia. Sebagai muslim yang kebetulan menjadi mahasiswa, perubahan mendasar yang harusnya kita lakukan adalah dengan menjadikan Islam sebagai sistem aturan kehidupan. Setuju???
Waallahu 'alam bi ash-showab.
Kini mahasiswa dihadapkan pada isu terorisme. Mas Erwin Permana dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa isu terorisme ini baru muncul dan kemudian masuk ke Indonesia pasca peristiwa 911, yakni setelah runtuhnya gedung WTC dan Pentagon di Amerika. Sejak peristiwa tersebut, Amerika senantiasa merawat isu terorisme dengan jargon 'war on terorism' karena memiliki kepentingan imperialisme di negeri-negeri kaum muslim. Sayangnya negeri muslim seperti Indonesia justru menyambut isu ini dan mengambil mentah-mentah. Seakan-akan di negeri ini memang ada teroris sehingga dibuatlah Densus 88. Untuk Densus 88 ini Amerika Serikat menggelontorkan dana sebesar 20 Milyar dolar per tahun sedangkan Australia menggelontorkan dana sebesar 600 Milyar dolar per tahun. Keberadaan Densus 88 ini senantiasa dipelihara dengan adanya teroris-teroris. Ini jelas menunjukkan bahwa agenda terorisme bukanlah agenda rakyat Indonesia dan bukan pula agenda mahasiswa tapi agenda Amerika sehingga Mas Erwin berpesan bahwa kita jangan terjebak dalam isu terorisme. Permasalahan saat ini sangat banyak dan jangan berkutat pada isu terorisme semata.
Arah Sinergisitas Mahasiswa
Kawan, sesungguhnya persoalan di negeri ini akan bisa diselesaikan ketika kita berusaha dengan sunguh-sungguh untuk melakukan perubahan. Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (TQS ar-Ra'd : 11).
Usaha untuk melakukan perubahan haruslah dengan cara-cara yang dibenarkan Islam, bukan dengan kekerasan (misalnya melakukan tindakan teror). Kita tidak boleh terjebak terhadap isu terorisme yang dibawa oleh orang-orang barat. Persoalan negeri ini tidak hanya masalah ekonomi, kesehatan, politik, atau yang lainnya, namun persoalan utamanya adalah masalah sistem yang diterapkan negara. Negara telah menerapkan sistem kapitalisme yang telah nyata menjadi sebab keterpurukan.
Kawan, sebagai mahasiswa kita harus senantiasa bersinergis untuk melakukan sebuah perubahan. Sinergi ini akan berhasil ketika para aktivis mahasiswa memiliki sebuah tujuan yang sama yakni untuk melakukan perubahan mendasar, mengubah kondisi bangsa. Saling berdiskusi di antara pergerakan mahasiswa, sehingga akan menghasilkan pemikiran-pemikiran yang mampu mengubah kondisi bangsa bahkan dunia. Sebagai muslim yang kebetulan menjadi mahasiswa, perubahan mendasar yang harusnya kita lakukan adalah dengan menjadikan Islam sebagai sistem aturan kehidupan. Setuju???
Waallahu 'alam bi ash-showab.