Libur telah usai. Tiba waktunya untuk kembali menikmati bangku kuliah. Bagi kalian yang baru aja menyandang predikat ‘mahasiswa’ pasti sangat bersemangat di hari pertama kuliah. Upz, bukan berarti mahasiswa lama ngga bersemangat sih,hehehe...:p Semangat kita semakin bertambah karena kita telah berhasil melalui bulan penuh perjuangan (padahal lagi ospek juga tuh..), bulan Romadhon.
Hari kemenangan itupun telah tiba. Suka cita Idul Fitri menghiasi negeri-negeri muslim di seluruh dunia. Idul Fitri adalah hari raya yang di dalamnya kita disunnahkan menampakkan rasa suka cita, gembira, senang, dan ceria. Namun, benarkah kaum muslim telah merasakan kegembiraannya? Lalu, sudahkah kemenangan hakiki itu diraih oleh umat Islam?
Sedikit Renungan...
Kawan, kegembiraan itu kini berubah menjadi pilu dan sedih. Kalau kita mau objektif melihat kondisi kaum muslim saai ini, pasti kita akan menyadari bahwa Islam dan umatnya tengah mengalami penghinaan dan penganiayaan. Pada bulan Romadhon lalu kita sempat dikejutkan dengan rencana pembakaran al-Quran, kitab suci umat Islam. Konon, rencana itu akan dilaksanakan dalam rangka memperingati Tragedi 11 September 2001 (Penghancuran Gedung Kembar WTC) dengan menjadikannya sebagai “International Burn a Koran Day” (Hari Membakar Alquran Internasional). Meski rencana itu ditunda pelaksaannya, namun respon umat Islam telah muncul di berbagai negeri. Secara tegas umat Islam menentang rencana yang digagas oleh pendeta Terry Jones (senior Gereja Dove World Outreach Center di Gainesville, Florida, Amerika Serikat) tersebut.
Latar belakang rencana tersebut sangatlah tidak masuk akal. Pendeta Terry Jones menuduh Islam dan hukum syariah bertanggung jawab atas aksi terorisme terhadap World Trade Center di New York pada 11 September 2001. “Islam adalah setan. Agama itu menyebabkan jutaan orang masuk neraka; agama menipu; agama kekerasan…,” katanya saat wawancara dengan CNN. Sungguh, tuduhan ini merupakan penghinaan dan fitnah yang keji.
Di Indonesia, negeri yang sangat mengagungkan kebebasan dan toleransi beragama, Islam dan umatnya malah disudutkan. Sebagaimana insiden yang terjadi antara jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan warga muslim Bekasi, Minggu (12/9). Insiden ini diduga terkait dengan rencana pembangunan gedung gereja HKBP di Kampung Ciketing, Pondok Timur, Bekasi. Warga setempat dikabarkan tidak setuju dengan pendirian gereja tersebut di Bekasi. Akhirnya, terjadi insiden bentrokan antara HKBP dengan warga muslim Ciketing yang berujung pada perkelahian, saling pukul, saling serang, saling tusuk dan saling terluka. Namun apa yang terjadi? Justru 9 warga muslim ditangkap dan ditetapkan menjadi tersangka saat sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit akibat luka sabetan senjata tajam HKBP, tak satupun tersangka dari HKBP.
Memaknai Kemenangan Hakiki
Kondisi di atas tentu sangat jauh dari kemenangan. Saat ini, Islam dan umatnya sedang terhina dan tertindas, tidak pada kondisi yang layak. Padahal ALLOH SWT telah berfirman: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” (QS. Ali 'Imran [3]: 110).
Kawan, kemenangan hakiki itu akan kita raih tatkala kita benar-benar telah termasuk umat yang terbaik yang disebut dalam ayat di atas. Tentu saja predikat ‘terbaik’ itu harus sesuai dengan pandangan ALLOH SWT. Dikatakan sebagai umat terbaik adalah ketika kita senantiasa terikat pada seluruh aturan ALLOH, yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Fantastik! Hanya Islam sajalah yang punya aturan komplit,plit,plit,plit...(special pake telor,hehe..:)) baik bagi individu, masyarakat, bahkan negara. Seluruh aturan ini merupakan syariat yang wajib kita terapkan dalam kehidupan.
Saatnya Meraih Kemenangan
Sesungguhnya kawan, ALLOH SWT telah menjanjikan kemenangan itu pada kaum muslim. Tentunya kemenangan itu tidak datang dengan sendirinya dan wajib kita upayakan. ALLOH berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (TQS. Al-Baqarah: 208).
Untuk itu, penerapan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) harus segera kita wujudkan, sebagai konsekuensi keimanan kita kepada ALLOH SWT. Selain membentuk keimanan individu yang mutlak pada ALLOH SWT, kita juga wajib melakukan amar makruf nahi munkar dengan mengajak dan menyeru umat untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah, sekaligus mengganti sistem hukum kufur dengan sistem hukum Islam dalam sebuah institusi negara. Negara inilah yang akan mempersatukan seluruh kaum muslim serta menjaga kehormatan dan kemuliaan Islam dan umatnya, yaitu negara Khilafah Islamiyah.
Kawan, sebagai mahasiswa muslim yang tangguh tentunya kita tidak akan berdiam diri melihat kondisi umat Islam saat ini. Mahasiswa muslim harus melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat bahkan dialah yang menjadi pemimpin perubahan, dengan senantiasa menyerukan penerapan syariat Islam secara kaffah.
Kawan, jangan biarkan Romadhon berlalu begitu saja! Kemenangan hakiki itu harus segera kita raih. ALLOH SWT telah menciptakan kita dengan seperangkat aturan yang kita perlukan dalam mengarungi kehidupan. Lalu mengapa kita masih enggan untuk menerapkannya???
Waallahu’alam bi ash-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar